SELAMAT DATANG di DE LIBRARY - JELAJAHI DUNIA DENGAN MEMBACA

PERKEMBANGAN TEORI MANAJEMEN

Pada tahun 3000 SM, arsitek Mesir kuno berhasil mewujudkan karyanya berupa piramid Cheops. Piramid itu terdiri atas 2.300.000 batu. Setiap batu berkisar setengah sampai satu ton yang disusun rapi dan kokoh. Pembangunan piramida ini melibatkan ratusan ribu tenaga kerja, tanpa adanya manajemen yang baik piramida itu mustahil terwujud. Jadi, substansi dan aplikasi manajemen sebenarnya sudah ada sejak manusia itu ada, hanya saja istilah manajemen baru muncul pada tahun 1886. Di Indonesia, manajemen sudah dipraktikkan pada masa prasejarah. Adanya Candi Borobudur pada abad ke-8 dan Candi Prambanan pada abad ke-9 merupakan salah satu bukti bahwa manajemen sudah lama dipraktikkan di Indonesia.
Manajemen berasal dari kata to manage yang berarti mengatur, dalam artian luas manajemen yaitu suatu proses untuk mencapai suatu tujuan. Pada dasarnya manusia mempunyai keterbatasan (fisik, pengetahuan, waktu dan perhatian) sedangkan kebutuhan tidak terbatas. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan dan terbatasnya kemampuan diperlukan suatu pembagian tugas, pekerjaan dan tanggung jawab. Maka dari itu diperlukanlah kerja sama dan keterikatan formal dalam suatu organisasi.
Manajemen mempunyai enam unsur yang disingkat dengan 6 M yaitu men, money, methods, materials, machines, and market. Semua itu diatur didalam sebuah wadah (tempat) yaitu organisasi atau perusahaan, hal ini dikarenakan karena pengaturan hanya dapat dilakukan dalam sebuah organisasi (wadah/tempat). Sebab dalam wadah/organisasi inilah tempat kerjasama, proses manajemen, pembagian kerja, delegation of authority, koordinasi, dan integrasi dilakukan untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai. Manajemen atau organisasi bukan tujuan melainkan wadah atau alat untuk mencapai tujuan yang diinginkan, yaitu sebuah pelayanan dan atau laba (profit).
Pertumbuhan manajemen terbagi menjadi tiga fase:



Tokoh yang mengawali munculnya manajemen ialah Mooney (1800-an). Ia telah memberikan kontribusi utama bagi manajemen, yaitu diterapkannya prinsip staf dalam gereja Katolik. Kesatuan doktrin yang diaplikasikan dalam organisasi militer menegaskan pentingnya mengomunikasikan sasaran dan rencana kepada pengikut.
Dari fase akhir sejarah telah lahir sebuah gerakan manajemen ilmiah yang dipelopori oleh Taylor pada tahun 1886 yang sekaligus manandai dimulainya fase modern dan sejak Revolusi Industry I, dikenal pendekatan manajemen ilmiah yang kemudian berkembang menjadi pendekatan teori organisasi klasik. Pendekatan Manajemen Ilmiah dan teori Organisasi Klasik disebut teori Manajemen Klasik Selanjutnya berkembang pula menjadi pendekatan hubungan Manusiawi, Perilaku (behavioral), Kuantitatif, Sistem, Kontingensi, dan Hubungan Manusia Baru.






BAB II
PEMBAHASAN
A. Perkembangan Teori Manajemen
Dari pendahuluan di atas, bisa digambarkan bahwa terdapat dua aliran manajemen yaitu manajemen yang lebih berorientasi pada tugas untuk meningkatkan produksi dan manajemen yang berorientasi pada manusia supaya ada interaksi yang baik, juga terdapat dua pendekatan yaitu pendekatan sistem dan pendekatan kontingensi:
Orientasi Tugas/Produksi Orientasi hubungan manusia








1. Teori Manajemen Klasik
1.1. Manajemen Ilmiah
Tokoh-tokoh penting dalam Aliran Manajemen Ilmiah antara lain : Robert Owen (1771-1858), Charles Babbge (1792-1871), Frederich W Taylor (1856-1915), Henry L Gantt (1861-1919) serta Frank dan Lilian Gilberth (1868-1924 dan 1878-1972).
Taylor ialah orang yang pertama yang mengembangkan manajemen ilmiah. Pada tahun 1886, ia meneliti usaha-usaha untuk meningkatkan produktivitas kerja berdasarkan waktu dan gerak (time and motion study). Ia berpendapat bahwa efisiensi perusahaan rendah karena banyak waktu dan gerak-gerak buruh yang tidak produktif. Taylor ini kemudian terkenal sebagai Bapak Manajemen Ilmiah (the Father of Scientific Management).
Taylor mendefinisikan istilah manajemen ilmiah sering berbeda dalam berbagai bukunya. Arti pertama, manajemen adalah penerapan metode ilmiah dalam studi, analisis, dan pemecahan masalah- masalah organisasi. Arti kedua, manajemen adalah seperangkat mekanisme atau teknik (a bag of tricks) guna meningkatkan efesiensi dan keefektifan organisasi.
Taylor telah pula memberikan prinsip-prinsip dasar penerapan pendekatan ilmiah dalam manajemen dan mengembangkan teknik-teknik untuk mencapai efisiensi dan keefektifan organisasi. Ia berasumsi bahwa manusia harus diperlakukan seperti mesin. Dalam bekerja, setiap manusia harus diawasi oleh supervisor secara efektif dan efisien. Peran supervisor harus diterapkan dengan maksimal. Setiap manusia harus berproduksi seperti mesin dan disuruh bekerja tanpa mengenal waktu dan lelah.
Empat prinsip dasar pemikiran manajemen ilmiah Taylor ialah :
1. Setiap pekerjaan yang dilakukan oleh seseorang harus diuraikan menurut bagian-bagiannya, dan cara ilmiah untuk melakukan setiap bagian dari pekerjaan tersebut perlu ditetapkan sebelumnya. Para pekerja harus diseleksi dan dilatih secara ilmiah untuk melakukan pekerjaan yang ditugaskan kepadanya.
2. Harus ada kerja sama yang baik antar manajer dan pekerja sehingga segala tugas dapat dilaksanakan sesuai dengan rencana.
3. Harus ada pembagian kerja antara manajer dan para pekerja
4. Manajer harus menjalankan kegiatan supervisi, memberikan perintah, dan merancang apa yang harus dikerjakan, sedangkan para pekerja harus bebas mengerjakan pekerjaan yang ditugaskan kepada mereka.
Keempat prinsip manajemen ilmiah ini didesain untuk memaksimalkan produktivitas kerja. Mekanisme dan teknik yang dikembangkannya untuk melaksanakan prinsip-prinsip tersebut diantaranya : Studi gerak dan waktu, pengawasan fungsional, sistem upah per potong diferensial, standardisasi pekerjaan, peralatan dan tenaga kerja.
Kegunaan yang diperoleh dari pengembangan teknik-teknik manajemen ilmiah ini ialah riset operasional, simulasi dan otomatisasi. Titik berat dari pemikiran Taylor ialah pada peningkatan efisiensi dan keefektifan pekerja tingkat bawah dengan cara meningkatkan produktivitas dan memperbesar bidang produksi. Fungsi manajemen menurut Taylor adalah Planning, Directing and Organizing of Work yang disingkat PDO.
Beberapa sumbangan dari aliran ini adalah :
1. Metode-metode ilmiah yang dikembangkan, seperti :
a. Penerapan prinsip-prinsip ilmiah dalam proses kerja (teknik-teknik efesiensi) untuk meningkatkan produktivitas dan menekan biaya lebih rendah.
b. Seleksi karyawan secara ilmiah.
c. Peningkatan kondisi karyawan (pengembangan, pendidikan, dan kesejahteraan) untuk meningkatkan hasil produksi dan laba.
d. Penggunaaan sistem bagan yang memuat jadwal kegiatan produksi karyawan, dapat diterapkan pada berbagai kegiatan organisasi.
2. Manajemen Ilmiah yang mementingkan rancangan kerja mendorong para manajer untuk mencari cara terbaik dalam pelaksanaan tugas.
3. Manajemen Ilmiah mengembangkan pendekatan rasional dalam pemecahan masalah.
Beberapa keterbatasan dari aliran ini adalah :
1. Peningkatan produksi sering kali tidak disertai dengan peningkatan pendapatan.
2. Upah yang tinggi dan kondisi kerja yang baik bukan hanya disebabkan oleh peningkatan laba perusahaan.
3. Hubungan manajemen dengan karyawan tetap jauh.
4. Manajemen ilmiah memandang manusia sebagai suatu yang rasional yang hanya dapat dimotivasi dengan pemuasan kebutuhan ekonomi dan fisik, sehingga aliran ini mengabaikan kebutuhan sosial non bendawi serta kebutuhan mendapatkan kepuasan dari hasil kerjanya.
Oleh karena itu untuk mengatasi kelemahan teori tersebut muncullah pendekatan teori organisasi klasik.

1.2. Teori Organisasi Klasik
Tokoh-tokoh teori organisasi klasik antara lain yaitu Henry Fayol, James D. Mooney, Mary Parker Follett dan Chaster I. Bernard. Teori organisasi klasik menurut Lunenburg dan Ornstein dibedakan menjadi dua perspektif yaitu manajemen ilmiah dan manajemen adaministratif. Fayol terkenal sebagai Bapak Teori Ilmiah.
Fayol mambagi teori klasik menjadi 5 fungsi dan 6 kegiatan operasi perusahaan:




Ada beberapa sumbangan dari aliran ini adalah :
1. Konsep keterampilan manajerial dapat diterapkan dalam berbagai tipe kegiatan organisasi.
2. Pandangannya yang memberikan hal-hal praktis dibandingkan aliran lain menyebabkan banyak diterima oleh para manajer.
3. Pandangannya juga memberikan kesadaran bagi para manajer akan hal-hal mendasar yang mungkin akan dihadapi dalam setiap organisasi.
Sedangkan keterbatasan dari aliran ini adalah :
1. Prinsip-prinsip aliran ini dinilai hanya tepat bila organisasi berada dalam lingkungan yang stabil dan dapat meramalkan secara tepat perubahan lingkungan luar organisasi.
2. Prinsip-prinsip aliran ini dipandang terlalu umum untuk mengatasi permasalahan organisasi masa kini.

2. Pendekatan Hubungan Manusiawi
Pendekatan ini muncul karena pendekatan klasik tidak menghasilkan efesiensi produksi dan keharmonian kerja, yang kemudian para ahli melengkapi pendekatan klasik dengan sosiologi dan psikologi. Tokoh-tokoh aliran hubungan manusiawi antara lain Hugo Munsterberg dan Elton Mayo.
Aliran hubungan manusiawi (perilaku manusia atau neoklasik) muncul karena ketidak puasan bahwa yang dikemukakan pendekatan klasik tidak sepenuhnya menghasilkan efisiensi produksi dan keharmonisan kerja. Sehingga “sisi prilaku manusia” dalam organisasi menjadi penting.
Dibawah ini ada beberapa ahli yang mencoba melengkapi teori organisasi klasik dengan pandangan sosiologi dan psikologi.

Hugo Munsterbeg (1863 – 1916)
Dia banyak menguraikan penerapan peralatan-peralatan psikologi untuk membantu pencapaian tujuan produktifitas. Yaitu (1) penemuan best possible person, (2) penciptaan best possible work, (3) penggunaan best possible effect untuk memotivasi karyawan.

Elton Mayo (1880 – 1949)
Mayo menemukan penemuan penting bahwa perhatian khusus (seperti perasaan terpilih menjadi partisipan dalam studi yang dilakukan manajemen puncak) sangat memepengaruhi usaha-usaha para karyawan. Karena makhluk sosial dimotivasi oleh kebutuhan sosial, keinginan akan hubungan timbal balik dalam pekerjaan, dan lebih respontif terhadap dorongan kelompok kerja.
Keterbatasan teori hubungan manusiawi dan sumbanganya
Konsep makhluk social tidaklah menggambarkan secara lengkap individu-individu di tempat kerjanya. Perbaikan kondisi kerja dan kepuasan kerja tidak menghasilkan produktivitas yang mencolok. Lingkungan social bukanlah satu-satunya tempat pekerja saling berinteraksi. Kelopmpok yang diteliti mengubah perilakunya karena merasa kelompoknya menjadi objek dan subjek penelitian.
Penekanan kebutuhan-kebutuhan sosial dalam aliran hubungan manusiawi melengkapi pendekatan klasik, sebagai usaha untuk meningkatkan produktivitas. Aliran manusiawi mengutarakan bahwa perhatian terhadap para karyawan akan memberikan keuntungan. Akan tetapi konsep makhluk sosial tidak menggambarkan secara lengkap individu-individu dalam tempatnya bekerja. Perbaikan-perbaikan kondisi kerja dan kepuasan karyawan tidak menghasilkan peningkatan produktivitas yang dramatik seperti yang diharapkan.
Lingkungan sosial di tempat kerja hanya salah satu dari beberapa faktor yang saling berinteraksi yang mempengaruhi produktivitas dan hal-hal ini marupakan sebagian keterbatasan teori hubungan manusiawi.

3. Pendekatan Teori Perilaku
Tolak ukur yang penting untuk manajer dalam pendekatan ini adalah kelakuan manusia. Teori perilaku dapat dipahami melalui tiga pendekatan yaitu dengan model: 1) rasional, 2) sosiologis, dan 3) Pengembangan hubungan manusia.


Keterbatasan teori perilaku dan sumbanganya
Karena manusia yang bersifat unik, sehingga teori perilaku tersebut tidaklah sepenuhya nyata dan menjadikan ahli-ahli perilaku berbeda dalam menyimpulkan penelitian dan sulit untuk merekomendasikan.
Sumbangan yang diberikan berupa fikiran yang dititik beratkan atas penggunaan partisipasi dan cara-cara menghadapi konflik yang timbul karena perbedaan sehingga hasilnya berupa penemuan-penemuan penting mengenai persoalan kebutuhan dan motivasi manusia yang sedang bekerja, penggunaan otoritas, pengaruh irasionalitas pada kelakuan manusia.
4. Pendekatan Kuantitatif
Perkembangannya dimulai dengan digunakannya kelompok-kelompok riset operasi dalam memecahkan permasalahan dalam industri. Tekhnik riset operasi sangat penting sekali seiring dengan perkembangan tekhnologi dalam pembuatan dan pengambilan keputusan. Pengambilan riset operasi dalam manajemen ini dikenal dengan manajemen science.
Langkah – langkah manajemen sience yaitu :
a. Perumusan masalah dengan jelas dan terperinci
b. Penyusunan model matematika dan pengambilan keputusan
c. Penyusunan model
d. Pengujian hasil atas penggunaan model
e. Penetapan pengawasan atas hasil
f. Pelaksanaan hasil atas implementasi
Keterbatasan Pendekatan Kuantitatif
Sayangnya model kuantitatif banyak menggunakan model atau simbol yang sulit dimengerti oleh kebanyakan orang, termasuk manajer. Pendekatan kuantitatif juga tidak melihat persoalan peri laku dan psikologi manusia dalam organisasi. Meskipun demikian potensi model kuantitatif belum dikembangkan sepenuhnya. Apabila dapat dikembangkan lebih lanjut pendekatan kuantitatif akan memberikan sumbangan yang lebih berarti.
5. Pendekatan Hubungan Manusia Baru
Pendekatan hubungan manusiawi baru merupakan pendekatan integratif yang menggabungkan pandangan positif terhadap hakekat manusia dengan studi organisasi secara ilmiah sehingga dapat menggambarkan kerja manajer yang efektif.
Burns dan Stalker menyatakan bahwa permulaan kebijakan administratif adalah kesadaran tentang belum optimalnya tipe-tipe sistem manajemen. Pendekatan hubungan manusia baru dimulai dengan teori pendekatan kontingensi menuju cara manajer seharusnya bertindak dalam lingkungannya.
Dari beberapa pendapat ahli tentang fungsi-fungsi manajemen, maka dapat disimpulkan bahwa fungsi-fungsi administrasi pendidikan meliputi 1) perencanaan, 2)pengorganisasian, 3)pengarahan, 4)pengendalian.
Dari berbagai pendekatan manajemen, dapat disimpulkan ada dua aliran manajemen, yaitu manajemen yang lebih berorientasi kepada tugas untuk meningkatkan produksi sebanyak-banyaknya dan manajemen yang berorientasi kepada manusia sebagai pelaksana tugas untuk meningkatkan hubungan manusiawi sebaik-baiknya.

6. Pendekatan Sistem
Defenisi sistem begitu banyak dikemukakan oleh ahli. Menurut Shore & Voich (1974) sistem ialah suatu keseluruhan yang terdiri dari sejumlah bagian-bagian. Menurut Gerald, et al. (1981) sistem ialah tata cara kerja yang saling berkaitan, dan bekerja sama membentuk suatu aktivitas atau mencapai suatu tujuan tertentu. Sistem dapat dipandang sebagai suatu hal yang tertutup atau terbuka. Sistem tertutup adalah sistem yang tidak dipengaruhi dan mempengaruhi lingkungannya, sedangkan sistem terbuka ialah sistem yang dipengaruhi oleh lingkungannya.
Bentuk umum suatu sistem terdiri atas input, proses, output dan umpan balik. Umpan balik ialah hasil output untuk untuk memperbaiki input yang akan datang. Keempat unsur tersebut berada dalam suatu organisasi. Sebagai organisasi dengan sistem terbuka, maka organisasi dipengaruhi dan mempengaruhi lingkungan luarnya. Pendekatan sistem meliputi penerapan konsep-konsep yang cocok dari teori sistem untuk mempermudah pemahaman tentang teori organisasi dan praktik manajerial
Peningkatan mutu pendidikan dengan pendekatan sistem berarti mulai dari input, proses, output sampai kepada outcome pendidikan. Dalam praktiknya, peningkatan mutu pendidikan selama ini belum menggunakan pendekatan sistem. Peningkatan mutu cenderung berpikir output oriented. Mutu pendidikan hanya dinilai dari output pendidikan seperti hasil belajar dan ujian nasional. Padahal, dengan berpikir sebagai suatu sistem, mutu pendidikan tidak hanya ditentukan oleh nilai ujian nasional tetapi juga mutu input dan mutu prosesnya di dalam kelas.
Pendekatan sistem ini memandang orgasnisasi sebagai satu kesatuan yang saling berinteraksi dan tidak memisahkan. Organisasi merupakan bagian dari eksternal yang sangat luas. Sebagai suatu sistem pendekatan manajemen meliputi sistem umum dari sistem khusus serta analisis tertutup ataupun terbuka.
Pendekatan sistem umum meliputi konsep – konsep formal dan teknis, filosofis dan sosiopsikologis. Analisis sistem manajemen spesifik meliputi struktur organisasi, desain pekerjaan, akuntansi, sistem informasi serta mekanisme perencanaan dan pengawasan.

7. Pendekatan Kontingensi
Pendekatan kontingensi digunakan untuk menjembatani celah antara teori dan praktek senyatanya. Secara umum antara teori dengan praktek, harus memperhatikan lingkungan sekitarnya. Kondisi lingkungan akan memerlukan aplikasi konsep dan teknik manajemen yang berbeda.
Pendekatan ini mencoba untuk menerapkan berbagai pendekatan manajemen terdahulu pada kehidupan nyata atau kondisi dan situasi tertentu. Perbedaan kondisi dan situasi tertentu memerlukan pendekatan tertentu pula. Menurut pendekatan ini, tugas manajer ialah mengidentifikasi teknik tertentu yang paling cocok diterapkan pada situasi tertentu dalam mencapai tujuan organisasi, karena tidak ada satupun teknik manajemen yang universal yang dapat diterapkan dalam setiap situasi dan kondisi.
BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Manajemen berasal dari kata to manage yang berarti mengatur, dalam artian luas manajemen yaitu suatu proses untuk mencapai suatu tujuan. Pada dasarnya manusia mempunyai keterbatasan (fisik, pengetahuan, waktu dan perhatian) sedangkan kebutuhan tidak terbatas. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan dan terbatasnya kemampuan diperlukan suatu pembagian tugas, pekerjaan dan tanggung jawab. Maka dari itu diperlukanlah kerja sama dan keterikatan formal dalam suatu organisasi.
Substansi dan aplikasi manajemen sebenarnya sudah ada sejak manusia itu ada, hanya saja istilah manajemen baru muncul pada tahun 1886. Di Indonesia, manajemen sudah dipraktikkan pada masa prasejarah. Adanya Candi Borobudur pada abad ke-8 dan Candi Prambanan pada abad ke-9 merupakan salah satu bukti bahwa manajemen sudah lama dipraktikkan di Indonesia.
Taylor ialah orang yang pertama yang mengembangkan manajemen ilmiah. Pada tahun 1886, ia meneliti usaha-usaha untuk meningkatkan produktivitas kerja berdasarkan waktu dan gerak (time and motion study). Ia berpendapat bahwa efisiensi perusahaan rendah karena banyak waktu dan gerak-gerak buruh yang tidak produktif. Taylor ini kemudian terkenal sebagai Bapak Manajemen Ilmiah (the Father of Scientific Management).
Dari fase akhir sejarah telah lahir sebuah gerakan manajemen ilmiah yang dipelopori oleh Taylor pada tahun 1886 yang sekaligus manandai dimulainya fase modern dan sejak Revolusi Industry I, dikenal pendekatan manajemen ilmiah yang kemudian berkembang menjadi pendekatan teori organisasi klasik.
Demikian makalah ini kami buat, mohon maaf apabila masih terdapat beberapa kesalahan dan penyusunan. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.


DAFTAR PUSTAKA
Hasibun, Malayu, Manajemen Dasar, Pengertian, dan Masalah, Jakarta: Bumi Aksara, Cet. 6, 2007
Usman, Husaini, Manajemen Teori Praktik dan Riset Pendidikan,Jakarta Bumi Aksara, Cet.I, 2008.
Siagian, Sondang P, 1979. Peranan staf dalam management. Jakarta: Gunung Agung.
Winardi, Asas-Asas Manajemen, Bandung: Penerbit Alumni