SELAMAT DATANG di DE LIBRARY - JELAJAHI DUNIA DENGAN MEMBACA

TEORI HELIOSENTRIS

Jika kita meninjau tentang keberadaan bumi ini, yang mana kita yang hidup didalamnya secara tidak langsung pasti akan terlintas dipikiran kita, tentang keajaiban dan hal-hal yang tersembunyi dibalik penciptaannya.
Kita tahu bahwa alam semeta ini banyak menyajikan hal-hal yang menarik serta menimbulkan banyak pertanyaan. Dimulai dari bagaimana alam semesta ini tercipta, apa yang menyebabkan bintang bercahaya, dan mengapa planet terus berputar serta apa yang menjadi pusat peredaran benda benda langit dan masih banyak lagi hal-hal yang belum dapat tersingkap oleh pengelihatan dan pengetahuaan kita. Sehingga keberadaan berbagaiproblema yang kompleks itu membuat para ilmuan yakni para astronom ingin untuk mencoba mencari tahu dan meneliti berbagai hal tersebut.
Sebenarnya hal yang semacam itu bukan merupakan hal yang baru di kalangan manusia, sebab pencariaan dan pemikiran untuk menggali ilmu dan hal-hal yang tersembunyi dibalik penciptaan alam semesta ini – seperti yang di ungkapkan diatas - para ilmuwan/Astronom, baik astronom barat yang dalam hal ini para astronom dari Polandia, Yunani, dan Negara barat lainnya yang senantiasa dan terus berusaha ingin mencoba untuk menemukan jawaban atas itu semua, dan tidak ketinggalan pula para astronom dari timur.
Sehingga setelah usaha keras yang bertahun-tahun mereka lakukan, banyak terlahir teori-teori baru yang mengungkap berbagai hal yang dulunya belum diketahui kemudian dengan ditemukan teori tersebut dapat terungkap berbagai hal yang mengganjal tersebut, walaupun keberadaan teori tersebut dinilai masih relative akan kebenarannya. Tapi tidak di- pungkiri berkat pemikiran mereka mampu untuk membuka wacana baru bagi keilmuan yang selama itu buntu tak dapat di utarakan jawaban yang pasti dan rasional.

Pengertian dan Sejarah Teori Heliosentris
Hal ini jelas, sejak zaman dahulu orang-orang Cina, Mesopotomia, dan Mesir telah dianggap merupakan salah satu bangsa yang mencoba untuk melakuakan pengamatan fenomena langit, akan tetapi karena keterbatasan sehingga abad VI SM baru berkembang dan terwujud sebuah yang disebut Ilmu Astronomi dan ini pada zaman Yunani.
Kemudian hal itu terbukti, Pada abad VI SM, ada seorang ilmuan yang bernama Tholes dengan mengungkapkan teorinya yang menyatakan bahwa Bumi berbentuk datar. Dan tidak berselang lama, tepatnya pada abad yang sama muncullah teori baru yang mengatakan bahwa bumi berbentuk bulat ( Phytagoras ) yang diungkapkan oleh Pytagoras, dan teori tersebut merupakan teori yang menolak akan ungkapan teori yang dinyatakan oleh Tholes dengan teori yang dinyatakannya seperti yang telah terungkap diatas.
Akan tetapi pada dua abad setelahnya, sebuah pernyataan Teori Aristoteles dan Eudoxus dengan ungkapanya, bahwa bumi itu merupakan sebuat planet yang berbentuk bulat bundar, dan bahwasanya bumi itu diam tidak bergerak.
Kemudian pada abad III SM, muncullah Arischarcus, ia mengatakan bahwa bumi ini sebenarnya berputar mengelilingi matahari dan mengetahui bahwa bintang-bintang di langit yang seolah-olah bergeser mengelilingi bumi yang disebabkan bumi berputar pada sumbunya ( berotasi ). Sayang ahli-ahli perbintangan pada saat itu menolak akan pemikiran itu. Sehingga teori tersebut tidak mendapat posisi keilmuan yang cocok di pandangan para astronom pada saat itu.
Zaman astronomi klasik Yunani di tutup oleh Hipparchus pada abad I SM yang menyatakan bahwa bumi yang bundar itu diam. Sedangkan matahari, bulan serta planet-planet yang ada itu semua berputar mengelilingi bumi ( Geosentris ) . Kemudian sesaat kemudian System Geosentris ini disempurnakan oleh seorang ilmuan perbintangan ( Astronom ) pada abad II M yang bernama Claudius Ptolemous. Dengan bertukar pengalaman ia menyusun buku besar tentang ilmu perbintangan yang berjudul Syintatis dan pemikirannya itu dianut dan diakui oleh pihak geraja dan masyarakat pada umumnya saat itu selama lebih dari 13 abad.
Setelah beberapa saat kemudian, pada tahun 19 februari 1473, di daerah Torin, tepatnya di daratan Negara Polandia, lahirlah seorang bakal ilmuan yang bernama Nicholas Copernicus. Dia hidup pada zaman abad pertengahan dan ada juga yang berkata ia hidup di zaman pencerahan ( renaissance ). Pada tahun 1491, Copernicus mulai masuk Universitas Carcow. Meskipun astronomi merupakan salah satu pelajaran yang diajarkan namun kurikulum universitas tersebut tidak menyediakan pelajaran astronomi yang nyata bagi para mahasiswanya. Lalu pada tahun 1496 sebelum lulus kuliahnya ia pergi untuk mempelajari hukum di Universitas Bologna. Namun sebenarnya, Copernicus bukan tertarik untuk mempelajari hukum, akan tetepi sebenarnya ia hanya ingin mencari seorang ahli astronomi yang bernama Domenico Maria Novara supaya dia bisa mendapatkan pelajaran ynag lebih banyak mengenai astronomi .
Setelah mendapatkan banyak pelajaran tentang astronomi, lalu ia menarik sebuah kesimpulan bahwa kalau matahari yang dianggap diam dan bumi serta bulan yang dianggap mengelilinya, maka akan lebih mudah untuk memprediksi benda benda yang ada di langit. Ia mencoba ulang untuk menggali kembali teori Aristarchus dan menulis sebuah buku “ De Revolutionibus Orbium Caelestium”.
Kemudian muncul salah satu pendukung teori Heliosentris yang meneruskan pemikiran Copernicus ia adalah seorang ilmuan kelahiran kota Pisa, Italia pada tahun 1564 yang bernama Galileo Galilei. Pada saat itu ia telah diperingatkan oleh pihak gereja untuk tidak mendukung teori Copernicus yang tepatnya pada tahun 1616, namun ia tetap pada pendiriannya dan ia mengeluarkan bukunya yang berjudul: "Dialogue Concerning The Two Chief Systems Of The World". Pada musim dingin tahun 1633 ia dipanggil ke Roma untuk untuk menghadapi komite Eksekusi dari Gereja Katolik Roma. Setelah ditahan dan dibentak-bentak selama berbulan - bulan pada tanggal 22 Juni 1933 dia diajukan ke Pengadilan Dank, kala itu umurnya sekitar 70 tahunan. Dalam keadaan tua renta dan sakit – sakitan, ia akhirnya bersedia menarik kembali dukungannya terhadap teori Copernicus. Pada tahun 1642 ia meninggal dalam rumah tahanannya dan pada tahun itu pula lahir Sir Isaac Newton.
Makin lama waktu berlalu makin banyak orang yang mendukung teori Heliosentris. Para rohaniawan baik Katolik Roma maupun Protestan menjadi salah tingkah. Para rohaniawan abad ke-18 mempersalahkan para rohaniawan abad ke-16 dan ke-17 yang enggan mendukung teori Heliosentris. Lantas sesaat setelah itu mereka sama berkompromi dengan teori Heliosentri yang dicetuskan oleh Aristarchus, Claudius Copernicus dan Galileo Galilei. Dan kemudian tersebut kepada masyarakat umum pada saat itu.
Dan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya para ilmuan astronomi islam sudah terlebih dahulu mendeklarasikan teori tersebut walaupun masyarakat pada saat itu kurang dan bahkan tidak mempercayainya, seperti yang telah di pelopori oleh Abu Raihan Al-Birruni dan lain-lain.

Bukti – bukti yang mendukung adanya teori Heliosentris
 Hipotesis Kabut dari Kant dan Laplace
Immanuel Kant seorang ahli filsafat Jerman membuat sebuh hipotesis terjadinya tata surya, dikatakanya bahwa di jagat raya terdapat gumpalan kabut yang berputar perlahan-lahan. Bagian tengah kabut itu lama-kelamaan berubah menjadi gumpalan gas yang kemudian menjadi matahari dan bagian kabut sekitarnya menjadi palanet-planet dan satelitnya.
Pada waktu yang bersamaan, tanpa ada komunikasi seorang ahli fisika Prancis Piera Simon Delaplace, mengemukakan teori yang hampir sama. Dikatakan bahwa tata surya berasal dari kabut panas yang berpilin, karen pilinanya itu berupa gumpalan kabut yang membentuk bentukan bulat seperti bola yang besar, makin kecil bola itu makin cepatlah pilinanya.Akibatnya, bentuk bola itu memepat pada kutubnya dan melebar di bagian ekuatornya, kemudiansebagian massa gas di ekuatornya itu menjauh dari gumpalan intinya, mementuk gelang dan lama kelamaan berupa menjadi gumpalan padat.Itulah yang disebut planet-planet dan satelitnya.
Teori kabut ini telah dipercaya selama kira-kira jawaban-jawaban kepada banyak hal atau masalah di dalam tata surya dan 2) karena munculnya banyak teori yang lebih memuaskan.
 Hipotesis Planetesimal ( Moultan dan Chamberlin )
Thomas Chamberlin ( 1843-1928 ) seorang ahli geologi dan Forest R Moulton ( 1872-1952 ) seorang ahli astronomi, keduanya ilmuan Amerika. Hipotesisnya dikenal dengan Planetesimal ( planet kecil ), karena planet terbentuk dari benda padat yang memang telah ada.
Menurut teori ini, matahari telah ada sebagai salah satu dari bintang-bintang yang banyak. Pada suatu massa ada sebuah bintang berpapasan pada jarak yang tidak terlalu jauh. Akibatnya, terjadilah peristiwa pasang naikpada permukaan matahari maupun bintang itu. Sebagian darimassa dari matahari itu tertarik ke arah bintang.
Pada waktu bintang itu menjauh, dan menurut Moulton dan Chamberlin, sebagian dari massa matahari jatuh kembali ke permukaan matahari dan seagian lagi terhambur ke ruang angkasa sekitar mtahari. Hal inilah yang dinamakan Planetesimal yang kemudian menjadi planet-planet dan beredar pada orbitnya.
 Hipotesis Pasang Surut ( James Jeans dan Jeffreys )
Hipotesis Planetesimal itu hampir sama dengan teori psang surut yang dikemukakan oleh Sir James Jeans (1877-1946 ) dan Harild Jeffreys ( 191 ), keduanya dari Inggris.
Mereka melukiskan bahwa setelah bintang itu berlalu massa matahari yang lepas itu membentuk bentukan cerutu yang menjorok ke arah bintang. Kemudian akibat bintang yang makin menjauh massa cerutu itu terputus-putus dan membentuk gumpalan gas di sekitar matahari. Gumpalan-gumpalan itu membeku kemudian menjadi planet-planet.
 Hipotesis Awan Debu ( Von Weizsaecher )
Pada tahun 1950 seorang ilmuan Gerard F.Kuiper mengemukakan pandanganya adanya gaya tarik-menarik di antara molekul-molekul yang menyusunya, maka berangsur-angsur semakin menjadi pekat, dan akan menjadi massa yang massa yang lebih pekat dan akan menjadi massa yang lebih padat.(gaya tarik-menarik di antara molekul-molekul itu timbul karena gerakan berputar putar dari molekul itu sendiri).
Gerakan-gerakan yang berangsr-angsur berubah menjadi gerakan-gerakan yang berputar mengelilingi suatu sumbu yang mengakibatkan kabut emakin pepat atau pipih bentuknya dan terjadilah pila konsentrasi-konsentrasi. Konsentrasi terbesar terjadi di bgaian tengah-tengah dan yang lebih kecil terjadi di .sekelilingnya yang bergerak terus mengitarinya. Konsentrasi yang di tengah menjadi gumpalan-gumpalan yang kemudian menjadi bintang baru atau matahari pusat.Sedangkan gumpalan-gumpalan kecil(calon-calon planet)disebut protoplanet-protoplanet.
Setelah matahari selesai berkosentrasi maka mulailah dia munyala dan bersinar-sinar dengan api nuclear yang dihasilkan oleh bagian dalamnya. Sinar cahaya ini kemudian mengusir atau menghilangkan gas-gas yang mmasih banyak menyelubungi protoplanet-protoplanet yang ada di sekitarnya. Dan mula-mula planet yang paling dekat letaknya dengan matahari dan tinggallah bagian-bagian daamnya yang lebih keras bebas dari selubung yang labil. Begitulah seterusnya satu demi satu planet-planet itu terjadi dan pada akhirnya seluruh gas-gas di dalam susunan ini lenyap semuanya. Lahirlah jenis-jenis planet.


Sebagaimana dengan teori Heliosentris yang menyatakan bahwa matahari sebagai pusat tata surya, dengan kata lain bahwa bumi mengelilingi matahri ( Revolusi ). Dan ini dapat dibuktikan dengan adanya gejala-gejala sebagai berikut:
 Abersi ( sesatan cahaya )
Orang melihat sesuatu bintansg S melalui sebuah teropong O.Jika teropong itu diam tak bergerak bintang S akan nampak gambarnya di titik B. Tetapi kenyataanya tidaklah demikian. Jika orang melihat bintang dengan arah OS. Maka bintang itu tidak akan terlihat di B ( dengan arah SOB ) melainkan melenceng di sampingnya yaitu di titik b’.Ini menandakan bahwa teropong kita tidak diam tapi bergerak, karena turut dengan bumi yang bergerak itu. Jika gerakan ini di dalam gambar tersebut berarah seperti anak panah, penjelasanya adalah sebagi berikut:
Bersamaan dengan berjalanya cahaya ( gambar bintang ) dari titik o sampai B, teropong berpindah tempat atau beruubah arahnya dan berakibat cahaya tidak lagi jatuh di titik B melainkan di sampingnya titik B’, maka kita lihat bintang itu tidak lagi dalamarah OS tetapi dalam arah OS’. Bintang seolah-olah bergeser dengan arah yang sama dengan gerkan itu. Gejala ini disebut sesatan cahaya.
 Parallaxis ( Beda Lihat )
Kalau bumi ini sungguh-sungguh bergerak mengelilingi matahari,maka dari bumi yang sedang berada di titik-titik yang berlainan-lainan dalam lingkaran lintasanya, sesuatu bintang S yang diprokyesikan pada bola langit akan kita lihat dengan arah yang berbeda-beda pula. Misalnya dua titik A1 dan A2 maka dari titik A1 bintang S itu akan kita lihat dalam A1SB1, sedangkan dari titik A2 dalam arah A2SB2, sudut yang diapit oleh kedua garis yang ditarik dari sebuah bintang kedua ujung jari-jari lintasan bumi ( sudut MSA2